Helo pembaca setia blog Badia, kali ini Badia mau ngebahas dan me-review salah satu film Indonesia yang diangkat dari novel karya Dee Lestari berjudul Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, yang diperankan oleh beberapa aktor dan aktris yang menurut Badia cukup berpengalaman dan baik dalam memainkan perannya, sebelum Badia kasi tau reviewnya ada baiknya Badia kasi tau sedikit sinopsisnya.
Berawal dari pertemuan Reuben (Arifin Putra) dan Dimas (Hamish Daud) di Washington D.C keduanya merupakan mahasiswa yang sedang berkuliah di Amerika, Pertemuan itu membuat kedua pasangan itu berjanji akan menulis buku roman sains yang menggerakkan hati banyak orang. Kisah tentang Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.
Di Jakarta, dari sebuah kantor eksekutif, sebuah wawancara mendadak antara Ferre (Herjunot Ali) seorang eksekutif muda, kaya, pintar dan terkenal; dan Rana (Raline Shah), wakil pemimpin redaksi majalah wanita papan atas di Indonesia; mengubah jalan hidup keduanya. Wawancara langka penuh kejujuran tentang, cinta, pengorbanan, dan kebebasan . Obrolan manis penuh hentakan denyut jantung dan tatapan yang amat dalam, bahkan terlalu dalam bagi Ferre dan Rana. Keduanya jatuh cinta.
Rana telah bersuamikan Arwin (Fedi Nuril) seorang pengusaha dari keluarga terkenal dan terpandang di Jakarta. Laki-laki pilihan Rana setelah seluruh keluarga besarnya mendukung, betapa Rana beruntung jika menikah dengan Arwin dan betapa Arwin adalah pria pilihan keluarga yang pantas dinikahi dan dibanggakan.
Kisah indah Ferre dan Rana berlanjut dan semakin dalam. Bagaikan Kesatria dan Puteri di kerajaan cinta. Keduanya mabuk dalam cinta yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Ferre dan Rana tidak bisa lepas dari kekacauan cinta terlarang yang terasa benar, dan keteraturan kehidupan pribadi rumah tangga Rana dan Arwin yang baik-baik saja, tetapi terasa salah.
Diva (Paula Verhoeven), seorang model papan atas tiba-tiba muncul dalam kehidupan Ferre. Dengan segala kekacauan dan keteraturan semesta, dibawah malam penuh bintang dan kelebat bintang jatuh; Diva hadir. Anehnya ternyata selama ini Diva tinggal di cluster yang sama dengan Ferre, bahkan rumah mereka saling berhadapan.
Reuben dan Dimas, Ferre, Rana, Arwin dan Diva, akhirnya bertemu tanpa saling mengenali satu sama lain dalam sebuah blog agresif, puitis, romantis, fenomenal bernama Supernova.
Reuben dan Dimas, Ferre, Rana, Arwin dan Diva, akhirnya bertemu tanpa saling mengenali satu sama lain dalam sebuah blog agresif, puitis, romantis, fenomenal bernama Supernova.
Begitulah sinopsis yang Badia kutip dari salah satu situs bioskop di Indonesia, ketika menonton filmnya yang berdurasi 2 Jam 15 Menit, agak sedikit shock di awal karena Reuben dan Dimas itu adalah Gay ! what the hell ! film macam apa ini, tapi tenang aja fim ini tidak menyajikan unsur seks Gay di dalamnya, cuma dialog doang kok.
Alur ceritanya adalah maju, namun yang membuat menarik adalah penonton dibuat berpikir akan siapa sebenarnya Supernova itu ?, ketika Reuben dan Dimas sedang membuat alur cerita Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. maka disitu pula lah bermula alur cerita Ferre, Rana, Arwin, dan Diva, seolah-olah Reuben dan Dimas sedang menulis cerita mereka, tapi ternyata tidak !.
Alur ceritanya adalah maju, namun yang membuat menarik adalah penonton dibuat berpikir akan siapa sebenarnya Supernova itu ?, ketika Reuben dan Dimas sedang membuat alur cerita Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. maka disitu pula lah bermula alur cerita Ferre, Rana, Arwin, dan Diva, seolah-olah Reuben dan Dimas sedang menulis cerita mereka, tapi ternyata tidak !.
Suatu alur cerita yang berbeda, Rizal Mantovani sebagai sutradara sukses membuat penonton untuk hanyut kedalam alur cerita dan bertanya-tanya siapa sebenarnya Supernova itu, dan ini merupakan interpretasi yang baru bagi penonton Indonesia untuk melihat film dengan alur yang seperti ini, sehingga tak salah kalau hanya sedikit orang yang tertarik untuk menonton film ini, karena alurnya yang memang memaksa penonton untuk berpikir.
Dari segi sinematografi jelas sangat berkualitas, jernihnya gambar dan view yang sangat tajam patut diapresiasi, tidak hanya itu saja pengambilan gambar di Washington DC merupaakn penggambaran yang paling Badia sukai.
Kalau deretan pemainnya sih ya udah nggak perlu ditanyakan lagi lah, semuanya sudah oke bro, Herjunot Ali juga memainkan perannya dengan baik, begitu juga Arifin Putra, Raline Shah, Fedi Nuril, semua merupakan Aktro dan Aktris Profesional.
Over all buat teman-teman yang tidak begitu menyukai film yang membutuhkan pemikiran keras sewaktu menonton kalian tidak cocok dengan film yang satu ini, tapi buat kalian yang ingin mencari alur cerita film Indonesia dengan konsep yang baru, kalian cocok dengan film Supernova ini.
Oleh karena itu Badia memberikan nilai B, lho kok B ? bukannya semuanya bagus ?, iya sih memang bagus tapi karena pemain film nya hanya itu-itu saja (sama seperti 5 cm) membuat ada yang kurang dari segi pemerannya.
Buat teman-teman yang belum tahu seperti apa itu film Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, kalian bisa lihat trailernya dibawah ini
Sampai disini dulu ya postingan Badia kali ini, sampai ketemu dipostingan selanjutnya.
No comments:
Post a Comment